{"id":10102,"date":"2026-06-20T10:50:50","date_gmt":"2026-06-20T03:50:50","guid":{"rendered":"https:\/\/aurapos.id\/?p=10102"},"modified":"2026-06-20T10:57:06","modified_gmt":"2026-06-20T03:57:06","slug":"daarun-nahdhah-menjaga-obor-keilmuan-dan-cita-cita-mencetak-ulama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/2026\/06\/20\/daarun-nahdhah-menjaga-obor-keilmuan-dan-cita-cita-mencetak-ulama\/","title":{"rendered":"DAARUN NAHDHAH:  Menjaga Obor Keilmuan dan Cita-cita Mencetak Ulama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><strong>DAARUN NAHDHAH:<\/strong><br \/>\n<strong>Menjaga Obor Keilmuan dan Cita-cita Mencetak Ulama<\/strong><br \/>\nOleh: Erman Gani<br \/>\n(Dosen UIN Suska Riau\/Abiturent ke-42)<\/p>\n<p>Di tepian aliran Sungai Kampar yang tenang, berdirilah sebuah lembaga yang telah menjadi saksi perjalanan sejarah umat. Sebuah institusi yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk jiwa, akhlak, dan peradaban.<\/p>\n<p>Itulah Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang.<br \/>\nBerdiri sejak 18 Agustus 1948, pesantren ini telah menorehkan jejak panjang dalam sejarah pendidikan Islam di Riau.<\/p>\n<p>Hari ini, Sabtu, 20 Juni 2026, bertepatan dengan 5 Muharram 1448 Hijriah, Pondok Pesantren Daarun Nahdhah kembali menggelar Wisuda Santri ke-73.<br \/>\nSecara hitungan usia, sejak berdiri hingga hari ini, semestinya momentum ini adalah wisuda ke-78. Namun sejarah mencatat adanya beberapa fase kevakuman kegiatan belajar mengajar akibat dinamika politik nasional dan pergolakan perjuangan bangsa Indonesia.<\/p>\n<p>Hal tersebut menunjukkan bahwa perjalanan pesantren ini bukanlah jalan yang mulus, melainkan jalan panjang yang ditempa ujian.<br \/>\nNamun justru dari ujian itulah lahir keteguhan.<\/p>\n<p>Memandang Daarun Nahdhah hari ini, hati terasa syahdu. Ingatan kembali melayang pada masa lalu. Masa ketika para santri belajar dengan sarana yang amat sederhana. Ruang belajar seadanya. Fasilitas terbatas. Asrama sederhana.<br \/>\nTetapi semangat mencari ilmu terasa luar biasa.<\/p>\n<p>Di tempat inilah kitab-kitab kuning dibuka dengan penuh takzim. Halaman demi halaman dipelajari dengan kesungguhan. Berbagai disiplin ilmu diajarkan: Nahu, Sharaf, Fiqih, Tauhid, Tafsir, Al-Qur\u2019an, Hadis, dan ilmu-ilmu pendukung lainnya.<\/p>\n<p>Ilmu Nahu mengajarkan ketelitian berpikir.<br \/>\nIlmu Sharaf membentuk ketajaman analisis.<br \/>\nFiqih membimbing amal.<br \/>\nTauhid menguatkan keyakinan.<br \/>\nHadis menuntun akhlak.<br \/>\nAl-Qur\u2019an menjadi cahaya seluruh perjalanan.<\/p>\n<p>Semua itu diajarkan oleh para Bbuya dan Umi\u2014guru-guru mulia yang ahli di bidangnya.<\/p>\n<p>Mereka mengajar dengan ketulusan yang sulit diukur dengan materi. Banyak di antara mereka yang mengabdikan hidup demi pendidikan tanpa imbalan finansial yang memadai. Mereka bukan sekadar pengajar, melainkan penjaga warisan ilmu para ulama.<br \/>\nKeikhlasan mereka adalah fondasi utama pesantren ini.<\/p>\n<p>Setiap lembaga besar lahir dari cita-cita besar. Daarun Nahdhah memiliki visi yang tidak ringan, tetapi sangat agung, mencetak ulama.<br \/>\nHal ini tercermin dalam mars pesantren:<\/p>\n<p>&#8220;Didalam pelajarannya<br \/>\nIlmu agama jadi sendinya<br \/>\nBercita-cita mencipta ulama<br \/>\ntuk kepentingan dunia akhirat sama<br \/>\nilmu umumnya beserta pula&#8221;<\/p>\n<p>Lirik ini bukan sekadar lagu. Ia adalah manifestasi cita-cita besar.<br \/>\nMencetak ulama bukan pekerjaan sederhana. Ia membutuhkan waktu panjang, kesabaran, sistem pendidikan yang kuat, dan fondasi ilmu yang kokoh. Ulama tidak lahir dari proses instan. Mereka dibentuk melalui disiplin, adab, pengorbanan, dan ketekunan.<\/p>\n<p>Pertanyaannya, apakah cita-cita besar ini masih mungkin diraih di era modern?<br \/>\nJawabannya, sangat mungkin.<br \/>\nSelama nilai-nilai fundamental pendirian pesantren tetap dijaga, cita-cita itu akan terus hidup.<\/p>\n<p>Kekuatan utama Daarun Nahdhah terletak pada fondasi keilmuan klasik yang kuat, terutama penguasaan ilmu alat, yakni ilmu yang menjadi kunci memahami literatur Islam.<br \/>\nDua pilar utamanya adalah:<br \/>\nIlmu Nahu<br \/>\nIlmu Sharaf<br \/>\nKedua ilmu ini adalah pintu masuk memahami khazanah Islam klasik. Tanpa penguasaan Nahu dan Sharaf yang kuat, pemahaman terhadap kitab kuning akan rapuh.<br \/>\nDi atas fondasi tersebut dibangun ilmu-ilmu lanjutan seperti<br \/>\nFiqih, Tauhid, Tafsir<br \/>\nHadis, Ushul Fiqih, Balaghah, Mantiq.<\/p>\n<p>Inilah karakter pendidikan pesantren yang telah melahirkan ulama lintas generasi.<br \/>\nModernisasi boleh berjalan. Teknologi boleh berkembang. Namun fondasi keilmuan klasik tidak boleh ditinggalkan.<br \/>\nKarena akar yang kuat akan melahirkan pohon yang kokoh.<\/p>\n<p>Daarun Nahdhah telah membuktikan eksistensinya. Pesantren ini bukan hanya dikenal di tingkat lokal Kampar atau Riau, tetapi juga telah memberi kontribusi di level nasional bahkan internasional.<br \/>\nBanyak alumni yang menjadi<br \/>\nUlama, Akademisi, Da\u2019i<br \/>\nGuru, Pemimpin masyarakat, tokoh agama di dalam dan luar negeri.<\/p>\n<p>Mereka adalah bukti nyata bahwa Daarun Nahdhah berhasil menjalankan misinya.<br \/>\nSetiap alumni adalah jejak sejarah.<br \/>\nSetiap ulama yang lahir adalah buah dari perjuangan panjang para guru.<br \/>\nSetiap dakwah yang tersebar adalah pantulan cahaya dari ruang-ruang belajar sederhana di tepian Sungai Kampar.<\/p>\n<p>Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah rumah perjuangan, pusat kaderisasi ulama, dan mercusuar ilmu di tepian Sungai Kampar.<\/p>\n<p>Usianya yang telah mencapai 78 tahun menunjukkan bahwa pesantren ini telah melewati banyak ujian sejarah. Namun satu hal yang tetap bertahan adalah ruh perjuangannya.<br \/>\nKesederhanaan bukan kelemahan.<br \/>\nKeterbatasan bukan penghalang.<br \/>\nSelama ilmu dijunjung, adab ditegakkan, dan keikhlasan dirawat, pesantren akan tetap melahirkan generasi besar.<br \/>\nSelamat atas Wisuda Santri ke-73 Pondok Pesantren Daaru Nahdhah.<br \/>\nMasyarakat menunggu karya besarmu.<br \/>\nUmat menanti lahirnya generasi penerus ulama.<\/p>\n<p>Teruslah menjaga obor ilmu itu.<br \/>\nKarena dunia selalu membutuhkan cahaya.<br \/>\nDan cahaya itu bernama ilmu.<br \/>\nSelamat untuk Daarun Nahdhah.<br \/>\nSemoga tetap teguh dalam cita-cita mulianya,<br \/>\nmencetak ulama untuk dunia dan akhirat.<br \/>\nWalllahu A&#8217;lam bi Shawab.<\/p>\n<div id=\"aurap-1462212029\" class=\"aurap-after-content\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding.jpeg\" alt=\"\"  srcset=\"https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding.jpeg 1080w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-300x300.jpeg 300w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-1024x1024.jpeg 1024w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-150x150.jpeg 150w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-768x768.jpeg 768w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-215x215.jpeg 215w\" sizes=\"(max-width: 1080px) 100vw, 1080px\" width=\"1080\" height=\"1080\"   \/><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DAARUN NAHDHAH: Menjaga Obor Keilmuan dan Cita-cita Mencetak Ulama Oleh: Erman Gani (Dosen UIN Suska Riau\/Abiturent ke-42) Di tepian aliran Sungai Kampar yang tenang,<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":10077,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-10102","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opiniartikel"],"post_mailing_queue_ids":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10102","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10102"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10102\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10104,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10102\/revisions\/10104"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10077"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10102"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10102"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10102"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}