{"id":4221,"date":"2023-10-18T14:43:25","date_gmt":"2023-10-18T07:43:25","guid":{"rendered":"https:\/\/aurapos.id\/?p=4221"},"modified":"2023-10-18T14:45:18","modified_gmt":"2023-10-18T07:45:18","slug":"masih-dicari-kaligrafi-tak-berkaedah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/2023\/10\/18\/masih-dicari-kaligrafi-tak-berkaedah\/","title":{"rendered":"MASIH DICARI: KALIGRAFI TAK BERKAEDAH"},"content":{"rendered":"<p>Didin Sirojuddin AR<\/p>\n<p>SEIRING dilombakannya Kaligrafi Kontemporer, belakangan santer istilah kaligrafi &#8220;berkaedah&#8221; dan kaligrafi &#8220;tak berkaedah&#8221;. Yg divonis tak berkaedah adalah kaligrafi kontemporer. Sedangkan yg berkaedah maksudnya seluruh gaya khat murni klasik-tradisional seperti Naskhi, Tsulus, Farisi, Diwani, Diwani Jali, Riq&#8217;ah, dan Kufi. Uniknya, barusan ada Lomba &#8220;Kaligrafi Kontemporer Berkaidah&#8221;. Ada pula yg teruuuuus menunggu dan bertanya, bertanyaaaa dan terus menunggu karena sampai sekarang &#8220;Kaligrafi Kontemporer belum dibuatkan kaedahnya&#8221;.<br \/>\nUngkapan\u00b2 tsb tidak tepat. Sebab, gaya\u00b2 khat (baik tradisional maupun kontemporer) semuanya berkaedah. Perbedaannya:<\/p>\n<p>\ud83d\udfe3 Khat *Murni Klasik-Tradisional* kaedahnya \u0627\u0644\u062d\u0631\u0648\u0641\/HURUF atau huruf perhuruf dg alat timbangan huruf (\u0645\u064a\u0632\u0627\u0646 \u0627\u0644\u062d\u0631\u0648\u0641) TITIK belah ketupat, alif, dan lingkaran (tapi TITIK yg paling dominan).<br \/>\nContohnya, \u0627\/ALIF Naskhi tingginya 5-6 titik. Ukuran ini nominalnya disebut \u062a\u0642\u0631\u064a\u0628\u064a\u0629\/taqribiyah alias &#8220;perkiraan&#8221; dan bersifat \u0642\u064a\u0627\u0633\u064a\u0629\/qiyasiyah alias &#8220;analogi&#8221;. Artinya, ALIF Naskhi tingginya kira\u00b2 sekitar 5-6 titik dan ukuran 5-6 titik dianalogikan dg huruf ALIF Naskhi. Begitulah, huruf\u00b2 lain dan gaya\u00b2 tradisional lain selain Naskhi pun diukur dg alat timbangan titik. Dg _mizan_ yg berarti &#8220;keseimbangan&#8221;, huruf\u00b2 akan akurat, simetris, dan seimbang BENTUKnya, UKURANnya, TIPIS-TEBALnya, TINGGI-RENDAHnya, TEGAK-MIRINGnya, dan LENGKUNGANnya. Apabila tidak mengikuti kaedah ini, maka gaya\u00b2 tsb dinyatakan keluar (\u063a\u064a\u0631\u0642\u0627\u0628\u0644 \u0644\u0644\u0642\u0648\u0627\u0639\u062f) dan dianggap tidak murni lagi.<br \/>\nDalam konteks kaligrafi &#8220;murni&#8221;, _mizanul huruf_ bersifat mutlak dan sulit digugat. Bahkan selaras dan _inherrent_ dg firman Allah SWT:<\/p>\n<p>\u0648\u0623\u0642\u064a\u0645\u0648\u0627\u0627\u0644\u0648\u0632\u0646 \u0628\u0627\u0644\u0642\u0633\u0637 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u062e\u0633\u0631\u0648\u0627\u0627\u0644\u0645\u064a\u0632\u0627\u0646<br \/>\nArtinya: _&#8221;Dan tegakkanlah keseimbangan itu dg adil dan janganlah kamu menggerogoti\/mengurangi keseimbangan!&#8221;_<br \/>\n(QS Ar-Rahman\/55: 9)<\/p>\n<p>\ud83c\udf10 Sedangkan *Khat Kontemporer* kaedahnya \u0627\u0644\u0648\u0635\u0641\/AL-WASHOF yg berarti DESKRIPSI atau GAMBARAN, bukan huruf perhuruf seperti Khat Tradisional. Di sini goresan utk 4 jenis Kaligrafi Kontemporer (Kontemporer Tradisional, Simbolik, Ekspresionis, dan Figural) harus menggambarkan dirinya.<br \/>\nMisalnya, huruf \u0627\/ALIF + \u0644\/LAM (dalam kata \u0627\u0644\u0634\u062c\u0631\u0629) Kontemporer Figural harus benar\u00b2 menggambarkan figur pohon. Tidak ada kaedah khusus (untuk ALIF tsb), karena yg penting menggambarkan figur pohon alif dan pohon lam. Maka, gambar pohon \u0627\u0644\u0634\u062c\u0631\u0629 yg dibuat oleh khattat A, B, C, dan D pastilah tidak akan sama, tergantung persepsi dan imaji masing\u00b2, tapi semuanya sama\u00b2 membuat figur pohon. Pohon \u0627\/ALIF pelukis A bisa berbeda dg pohon \u0627\/ALIFnya pelukis B, tapi sama\u00b2 pohonnya, yaitu &#8220;pohon alif&#8221;. Berbeda, misalnya, dg huruf \u0627 + \u0644 Tsulus\/Naskhi dalam Kaligrafi Tradisional, ditulis oleh 30 khattat pun bentuknya harus seragam yg kaedahnya ditentukan oleh _mizanul huruf._<br \/>\nKata \u0627\u0644\u062c\u0628\u0627\u0644 dalam figur bongkahan bebatuan gunung dilukis oleh 5 peserta lomba. Tidak ada yg sama, tapi kelima-limanya melukis figur gunung secara variatif untuk kata \u0627\u0644\u062c\u0628\u0627\u0644 .<br \/>\nPerbedaan atau keragaman ini bukan karena beda-beda pelukisnya semata. Seorang pelukis kaligrafi pun sangat mungkin, misalnya, membuat 4 pohon ALIF \u0642\u0627\u0644\u0648\u0627\u0627\u0645\u0646\u0627 yg berbeda-beda. Bukankah sekumpulan pohon jati atau dapuran bambu yg bertetangga juga tidak sama? Ini karena kaedahnya bukan huruf-perhuruf, melainkan deskripsi atau &#8220;gambaran&#8221; keseluruhan. Sekiranya \u0642\u0627\u0644\u0648\u0627\u0627\u0645\u0646\u0627 ditulis dg Khat Naskhi, maka 2 ALIF tunggalnya akan sama, 2 ALIF akhirnya juga pasti seragam.<br \/>\nContoh lain, gaya Ekspresionis yg saya namakan Syaifuli yg mendeskripsikan corak khas tulisan Syaiful Adnan yg meliuk-liuk sangat atraktif dengan lengkung \u0648\/WAWU + \u0631\/RA yg menyeruduk seperti &#8220;tanduk minang&#8221; sedang ngamuk. Syaifuli tidak ada kaedah huruf-perhurufnya, tapi cirinya tergambar jelas, &#8220;Ini gaya kaligrafi Syaiful Adnan.&#8221; Dalam lukisan<br \/>\n\u0627\u0644\u0644\u0647 \u0647\u0648 \u0645\u0648\u0644\u0649\u0643\u0645 \u0641\u0646\u0639\u0645 \u0627\u0644\u0645\u0648\u0644\u0649 \u0648\u0646\u0639\u0645 \u0627\u0644\u0646\u0635\u064a\u0631<br \/>\nbeberapa huruf sama seperti \u0648\/WAWU dan \u0627\/ALIF ditulis berulang tidak persis seragam, tapi semuanya persis mendeskripsikan gaya Ekspresionis khat Syaifuli.<br \/>\nDalam corak Kontemporer Tradisional juga begitu, harus mendeskripsikan goresan yg &#8220;berbau-bau khat Tradisional&#8221; tapi tidak persis 100 % Tradisional. Juga Kontemporer Simbolik, harus tegas &#8220;tulisan tsb menggambarkan simbol, ikon, atau logo sesuatu&#8221;, tanpa ditentukan kaedah huruf-perhurufnya.<br \/>\nApakah Kaligrafi Kontemporer &#8220;menyalahi kaedah huruf&#8221; khat murni Tradisional? Tentu saja, bahkan tidak boleh sama, karena dia juga memiliki kaedah tersendiri yg disebut \u0627\u0644\u0648\u0635\u0641 atau deskripsi. Apakah Kaligrafi Kontemporer &#8220;merusak tatanan&#8221; kaligrafi yg sudah ada? Tentu tidak, justeru &#8220;untuk mengembangkannya&#8221; sebagaimana sejarah perjalanan kaligrafi adalah &#8220;sejarah pengembangan dan penemuan corak\u00b2 baru huruf.&#8221; Sama dg kemunculan Thugra bukan untuk merusak Tsulus, Shikasteh bukan untuk merusak Ta&#8217;liq-Nasta&#8217;liq, dan Harf Al-Taj bukan untuk merusak Naskhi.<br \/>\nHayu ah, kita lanjutkan perjalanan untuk mencari *kaligrafi tak berkaedah.* Pasti, tak bakalan diketemukan. \ud83d\udd32\ud83d\udd8c\ufe0f<\/p>\n<div id=\"aurap-1289368127\" class=\"aurap-after-content\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding.jpeg\" alt=\"\"  srcset=\"https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding.jpeg 1080w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-300x300.jpeg 300w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-1024x1024.jpeg 1024w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-150x150.jpeg 150w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-768x768.jpeg 768w, https:\/\/aurapos.id\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/molding-215x215.jpeg 215w\" sizes=\"(max-width: 1080px) 100vw, 1080px\" width=\"1080\" height=\"1080\"   \/><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Didin Sirojuddin AR SEIRING dilombakannya Kaligrafi Kontemporer, belakangan santer istilah kaligrafi &ldquo;berkaedah&rdquo; dan kaligrafi &ldquo;tak berkaedah&rdquo;. Yg divonis tak berkaedah adalah kaligrafi kontemporer. Sedangkan<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":4223,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[2196,2195],"class_list":["post-4221","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opiniartikel","tag-kaligrafi","tag-kaligrafi-tak-berkaedah"],"post_mailing_queue_ids":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4221","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4221"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4221\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4222,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4221\/revisions\/4222"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4223"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4221"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4221"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/aurapos.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4221"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}