KAMPAR-Aurapos.id – Pemandangan di Desa Energi Berdikari (DEB) Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, siang itu tidak biasa. Area ini dipenuhi 62 mahasiswa berjaket biru terang yang sedang mempelajari proses Program Pemberdayaan Masyarakat PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Melalui kegiatan Company One Day Experience, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mempelajari praktik pemanfaatan energi terbarukan berbasis biogas dari kotoran sapi (13/10/2026)
Menjembatani teori akademik dan praktik lapangan, kunjungan tersebut membuktikan Program Community Involvement and Development (CID) PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan mampu mengintegrasikan aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi secara berkelanjutan melalui pengembangan potensi lokal.
Sudarman, penggerak program DEB Mukti Sari, menceritakan kisah saat warga desa menghadapi tantangan lingkungan dan sosial akibat praktik peternakan sapi dengan sistem lepas liar (free-grazing livestock). Kotoran ternak yang tidak terkelola mencemari pemukiman dan menimbulkan bau tak sedap. Selain itu, sapi yang berkeliaran di perkebunan warga sering kali memicu konflik sosial akibat kerusakan tanaman.
PHR Zona Rokan menangkap tantangan tersebut sebagai potensi sumber energi (biogas) untuk perbaikan berkelanjutan. Melalui DEB Mukti Sari, PHR hadir menginisiasi pengembangan ekosistem bioenergi sirkular DEB Mukti Sari. PHR tidak hanya menyediakan infrastruktur, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mandiri dalam mengelola teknologi biogas.
Saat ini, terdapat 20 unit instalasi biogas yang memanfaatkan kotoran ternak sapi di Desa Muktisari. Instalasi biogas mampu menyediakan sumber energi alternatif berupa gas ramah lingkungan yang dapat digunakan langsung untuk kebutuhan domestik masyarakat.
“Dulu berbagi aroma bau kotoran sapi yang tidak sedap kepada tetangga, namun sejak memiliki biogas kami sekarang bisa berbagi gas untuk mereka pakai masak sehari-hari. Dan sekarang rasanya kami sudah selangkah lebih maju, karena bisa berbagi pengalaman dalam penggunaan biogas kepada banyak orang,” ujar Sudarman.
Tak sekedar mendukung pasokan energi, implementasi teknologi sederhana yang ramah lingkungan ini juga mewujudkan sirkular ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat desa. Di bawah kelompok Biotama Agung Lestari, warga sukses mengelola ampas biogas (bioslurry) dengan menghasilkan produk turunan berupa pupuk organik untuk pertanian.
Dosen pengampu mata kuliah CSR Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau, Assyari Abdullah, menyampaikan apresiasi kepada tim CID PHR, Pemerintah Desa Mukti Sari, dan Kelompok Bhina Mukti Sari yang telah memfasilitasi kunjungan tersebut. Menurutnya, pembelajaran lapangan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami praktik pemberdayaan masyarakat secara langsung.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami CSR secara teori di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung tentang bagaimana program CSR diimplementasikan di tengah masyarakat. Kami berharap mahasiswa mampu melihat bahwa CSR bukan sekadar program perusahaan, tetapi juga bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan,” jelasnya.***rls

